Pengalaman Bermalam di Masjid Raya Bandung

Pengalaman Bermalam di Masjid Raya Bandung


Bulan september kemarin saya sempat backpaker ke kota kembang Bandung seorang diri, Ya.. saya memang sudah beberapa kali liburan ke luar kota sendirian, seperti di Bandung kali ini. Selain karena memang ada urusan penting juga karena saya memanfaatkan beberapa voucher perjalanan dan hotel yang saya dapatkan dari agensi.

Liburan ke luar kota sendirian itu menurut saya ada banyak kelebihan dan kekurangannya, untuk penginapan misalnya saya tidak terlalu ambil pusing untuk urusan yang satu ini, kalo sendirian dan nggak bawa teman cewek kan bisa tidur dimana saja, nggak harus sewa hotel ataupun guesthouse.

Untuk masalah keamanan memang tidak terjamin, tapi karena saya sendiri kalau berpergian tidak suka bawa barang-barang mahal dalam jumlah yang berlebihan jadi rasa khawatir itu lama-lama hilang,

Biasanya untuk urusan bekal saat perjalanan saya selalu meminimalisir membawa uang pecahan besar Rp 100 ribuan atau Rp 50 ribuan, sekarang ini dimana-mana sudah banyak ATM kalau dulu selain di spot-spot bank ATM hanya ada di Pom bensin dan Mall, sekarang ini ATM sudah ada di minimarket yang buka selama 24 jam, jadi jika memerlukan sesuatu tinggal tarik tunai sesuai jumlah yang harus dibayarkan, memang agak ribet sih, tapi saya pikir ini lebih baik daripada membawa uang cash saat perjalanan, apalagi saat kita sedang tidur kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi.

Jadi selama dua hari satu malam saya di Bandung malamnya saya putuskan untuk bermalam di Masjid Raya Bandung, masjid ini berada tepat di tengah-tengah kota Bandung, tepatnya di Jalan Asia Afrika.

Dari Jogja saya naik kereta api Argo Wilis, berangkat dari Jogja sekitar jam 11.30 siang dan sampai di Stasiun Hall Bandung sekitar jam 7 malam, sepanjang perjalanan kereta api setelah meninggalkan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat saya habiskan untuk beristirahat, karena walaupun masih siang tapi kondisi mendung membuat suasana menjadi gelap, dan tidak bisa menikmati pemandangan yang ada di luar.

Setelah keluar dari Stasiun Hall, Bandung masih diguyur hujan, beruntung saat itu hujannya tidak terlalu lebat dan saya juga membawa payung dari rumah.

Berhubung dari siang belum makan saya langsung mencari warung makan terdekat, setelah makan saya kembali jalan menyusuri jalanan kota Bandung yang basah setelah diguyur hujan sejak sore hari. Melewati Jalan Braga dari utara kemudian belok ke kanan menyusuri Jalan Asia Afrika akhirnya saya putuskan untuk berhenti di keramaian Area Alun-alun Bandung,

Cukup mengejutkan ketika saya masuk ke serambi Masjid Raya Bandung, saat itu sudah sekitar jam 10 malam tapi suasana di sana masih cukup ramai, banyak sekali orang-orang yang sudah bersiap melewati malam di Masjid Raya Bandung ini, mereka rata-rata sudah berumur, tapi tidak sedikit juga yang masih berusia remaja, dugaan saya mereka ini juga backpacer dari luar kota sama seperti saya.

Saat berada di Masjid Raya Bandung kita tidak perlu khawatir kelaparan, disini ada banyak penjual kopi dan makanan yang selalu stand by 24 jam, harganya pun masih wajar hanya Rp 3 ribu untuk satu cup kopi instan.

Perlu diketahui jika menginap di serambi Masjid Raya Bandung ini memang gratis, namun saat memasuki waktu menjelang Shubuh semua pengunjung akan dibangunkan, karena seluruh masjid akan dibersihkan sebelum jamaan Sholat Shubuh datang, jadi jangan heren jika sekitar jam 3 pagi anda harus beranjak dari halaman masjid.


This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon